Coretan BoWo Coretan BoWo Coretan BoWo: Inilah Suku Hopi, Suku Dengan Ramalan Terdasyat

Monday, May 16, 2016

Inilah Suku Hopi, Suku Dengan Ramalan Terdasyat

Suku Indian di daratan Amerika Utara bukanlah sebuah suku tunggal, tapi terdiri dari beberapa suku yang berbeda, bahasa, budaya dan sejarahnya sangat mirip tapi tidak sama. Selain itu, banyak yang beranggapan bahwa suku Indian memiliki kaitan yang erat dengan bangsa kulit kuning di Asia. Banyak ramalan dan legenda pada masing-masing kelompok etnis suku Indian, terutama suku Hopi itu diibaratkan sebagai pencatat sejarah. Lewat cerita lisan dan cara lainnya secara turun-temurun, mereka telah banyak mencatat tentang legenda Indian kuno, dan salah satu yang terkenal adalah ramalan Hopi.

Suku Hopi adalah salah satu bangsa Indian kuno. Nenek moyang mereka berimigrasi dari Meksiko ke negara-bagian Arizona kira-kira lima hingga sepuluh ribu tahun lalu. Kini mereka hidup di atas tanah lindung (Hopi Re-servation), sebuah negara bagian Arizona Utara, Amerika Serikat.

Arti sebenarnya dari Hopi adalah rakyat yang damai (people of peace). Mereka merupakan sebuah suku yang memiliki tradisi dan kepercayaan lama, dalam setahun mereka selalu mengadakan upacara keagamaan yang berbeda. Sementara itu, ramalan tentang masa depan, sejarah dan asal-usul manusia, mereka dapatkan dari nenek moyangnya secara turun-temurun. Di era tahun 1950-an ada yang untuk pertama kalinya menyebarluaskan ramalannya dalam bahasa Inggris, di antaranya termasuk sejumlah besar ramalan tentang sejarah, misalnya sejarah perang dunia I dan II-nya itu sangat akurat.

Menurut suku Hopi, umat manusia sudah empat kali berganti kebudayaan (peradaban), legendanya tentang asal-usul manusia mempunyai kemiripan dengan firman dalam Al-kitab (negeri) Barat. Garis besarnya seperti ini: Dunia ini sebenarnya hanyalah sebuah ruang tak terbatas, tak mempunyai ujung dan pangkal, tidak ada yang namanya waktu maupun kehidupan. Adalah Taiowo the Creator (Sang Maha Pencipta) terlebih dulu menciptakan Sotuknang (sesosok dewa, yang disebut sebagai kemenakan Taiowo/ Sang Pencipta). Atas bimbingan dari Sang Maha Pencipta, Sotuknang menciptakan berbagai zat padat, tujuh alam semesta, air dan udara.

Setelah itu, Sotuknang menciptakan spider woman, dan menciptakan empat rumpun bangsa dengan warna kulit yang tidak sama (kuning, merah, putih, hitam) dari tanah liat. Sotuknang menganugerahi akal budi, kemampuan beregenerasi (beranak-pinak) serta bahasa yang tidak sama pada keempat rumpun manusia beda kulit ini, dan membiarkan mereka hijrah ke arah yang berbeda-beda untuk hidup.

Sotuknang berkata pada keempat rumpun manusia beda kulit ini, “Segala yang saya berikan pada kalian, agar kalian bisa hidup bahagia. Tapi ada satu permintaanku, yakni sampai kapan pun kalian harus menghormati Sang Maha Pencipta. Menghormati cinta kasih Sang Maha Pencipta yang menciptakan kalian, selama hayat masih dikandung badan, kalian jangan lupakan semua pesanku ini.”

Orang-orang ini ini disebut “manusia pertama” (The First People), dan dunia tempat mereka tinggal disebut Dunia Pertama (The First World).

Belakangan, banyak orang dari manusia pertama itu melupakan pesan/ wejangan dari Sotuknang dan tidak lagi menghormati Sang Maha Pencipta. Sehingga dengan demikian, Dunia Pertama akhirnya dimusnahkan oleh api besar. Sebagian orang yang bermoral tinggi beruntung lolos dari maut, masuk dalam Dunia Kedua (The Second World). Meskipun Dunia Kedua ini tak seindah yang pertama, tapi masih lumayan bagus. Umat manusia di masa ini berkembang dengan pesat dan berpencar ke empat penjuru, mereka sering memuja dan menyanjung Sang Maha Pencipta.

Perlahan-lahan, rasa egoisme manusia semakin besar, dan secara bertahap mereka juga tidak lagi percaya pada Sang Maha Pencipta. Tak lama kemudian, Dunia Kedua akhirnya dimusnahkan oleh Sang Maha Pencipta dengan cara membeku. Setelah itu, Sang Maha Pencipta kemudian menciptakan Dunia Ketiga (The Third World). Sisa dari manusia Dunia Kedua kemudian hidup dan berkembang biak di dalam Dunia Ketiga.

Namun, pada akhirnya akhlak manusia itu merosot lagi. Mereka memanfaatkan kreativitasnya untuk melakukan hal-hal yang jahat. Sehingga menyebabkan Dunia Ketiga dihancurleburkan oleh air bah. Sementara bagi mereka yang beruntung lolos dari kematian itu akhirnya masuk ke Dunia Keempat (The Fourth World). Orang-orang yang bernasib baik inilah yang disebut peradaban manusia kita sekarang.

Sebab utama dihancurkannya peradaban manusia terakhir (dunia ketiga) itu karena semakin merosotnya moral dan keegoisan manusia, serta tidak percaya pada ajaran dari para dewa. Menurut Suku Hopi, bahwa banjir besar terakhir itu hampir menenggelamkan semua manusia, hanya sedikit orang yang percaya akan keberadaan-Nya itu bisa hidup selamat. Mahadewa menasihati mereka supaya berkeyakinan teguh terhadap petuah-Nya itu. Suku Hopi pernah membuat sebuah ikrar suci dengan Mahadewa mereka “Kami ,elamanya akan melakukan sesuai dengan petunjuk-Mu. Bagi suku Hopi, ajaran Tuhan itu adalah kekal abadi.

Berasal dari sumber yang sama

Kebudayaan Hopi dengan sumber sejarahnya mempunyai keterkaitan yang dalam. Bahkan pandangan yang berkaitan dengan tanah, air, api dan angin di masa itu dengan kurun waktu yang disampaikan penganut buddhisme tentang adanya empat unsur (tanah, air, angin dan api) itu jauh lebih awal, dan versi tentang manusia yang berasal dari warna kulit yang sama itu lebih-lebih melampaui pemahaman sejarah di zaman sekarang ini dan dengan persepsi yang ada pada agama umumnya.

Paragraf di bawah ini berasal dari: Talk Given by Lee Brown in 1986 Continental Indigenous Council. Meski telah tercampur dengan sejumlah pemikiran individu di dalamnya, tapi tetap dapat terbaca secara samar-samar maksud sebenarnya dari pandangan Hopi yang misterius itu.

Belum ada yang tahu secara pasti terkait sudah berapa lama sejarah bangsa Hopi di daratan Amerika Utara itu, konon katanya, ukiran batu ramalan suku Hopi itu diidentifikasi sejarahnya sudah ada 50.000 tahun lamanya, menurut mereka, bahwa zat mineral, batu karang itu ada satu sirkulasi periodic, demikian juga flora. Namun sekarang ini kita sedang berada pada akhir daripada siklus sirkulasi hewan dan sebuah permulaan dari siklus sirkulasi babak baru umat manusia.

Ketika kita memasuki ke babak samsara umat manusia, potensi besar yang kita miliki sejak lahir, akan dilepaskan dari dalam roh dan cahaya kita. Akan tetapi kita sekarang ini sedang mendekati akhir dari samsara sirkulasi periodik hewan, dan kita juga tahu apa yang terjadi pada hewan di bumi ini.

Alkisah pada dahulu kala, sejak awal dari periode samsara, Mahadewa Agung turun ke bumi dan mengumpulkan manusia di sebuah pulau yang sekarang telah tenggelam ke dasar laut, lalu bersabda pada manusia, “Aku akan mengirim kalian ke empat penjuru, serta secara bertahap akan mengubah warna kulit kalian menjadi empat warna, dan aku akan memberikan beberapa bimbingan, kalian akan menyebutnya sebagai amanah dan petunjuk Ilahi, dan ketika kalian bertemu lagi, kalian harus membagikan ajaran-ajaran ini, agar kalian dapat hidup harmonis di bumi ini, dan inilah awal dimulainya peradaban umat manusia.”

Selanjutnya Ia berkata, “Dalam samsara kali ini, aku akan berikan dua batu prasasti di setiap rumpun bangsa di setap penjuru, dan jangan pernah kalian membuangnya, kalau tidak, umat manusia tidak saja akan mengalami penderitaan, tapi segenap bumi ini juga akan binasa.”

Iia memberikan sebuah tugas kepada manusia yang ada di setiap penjuru, yang disebut sebagai “Sang Penjaga.”

“Waktu yang amat panjang sudah berlalu, mahadewa agung membagikan dua keping batu prasasti kepada setiap orang, bagi kami sebagai suku Indian, kami menyimpannya di atas sebuah podium menjulang tinggi pada tanah reservasi suku bangsa Hopi di negara bagian Arizona.”

Kisah tentang “Batu Nujum”

Di sekitar Oraibi negara bagian Arizona, Amerika, ada sebongkah batu prasasti yang disebut dengan “Batu Nujum.” Isi yang terukir di atasnya berdasarkan perlambangan simbol yang dikuasainya dalam menyampaikan ramalan-ramalan kuno bangsa Hopi itu sendiri. Konon riwayat sejarahnya sudah ada sepuluh ribu tahun lamanya. Mereka tidak menggunakan huruf atau tulisan, tapi dengan bahasa lisan secara turun-temurun.

Oleh karena kurun waktunya yang sudah terlampau lama, sehingga sulit rasanya ada yang sanggup menjelaskan secara autentik lingkaran yang pemancar cahaya digambar sebelah kiri serta simbol yang ada di tengahnya itu (mirip simbol Buddha Swastika). Malahan ada presentasi yang berhubungan dengannya dibuang, hanya menjelaskan bagian tengahnya saja, dan banyak suku Indian sekarang sudah tidak bisa memahaminya, atau tidak percaya dengan ramalan-ramalan itu.

Terkait ukiran batu ramalan yang sangat bernilai itu, suku Hopi beranggapan bahwa itu adalah firman yang disampaikan dewa. Alkisah pada zaman dahulu kala, orang-orang Hopi telah menggambarkan hal-hal seperti ini, dari generasi ke generasi, dan yang mereka bicarakan adalah era dalam kehidupan kita sekarang.

Mereka mengatakan, orang-orang yang hidup di bumi pada masa sekarang adalah orang yang paling beruntung, karena segala materi sekarang berada dalam tahap pemurnian. Meskipun akan sangat sulit, tapi merupakan kemuliaan rasanya bisa hidup di era sekarang ini dan menyaksikan segalanya.
tanda tangan

Ditulis Oleh : Coretan BoWo ~ Berbagi ilmu

Christian angkouw Terimakasih telah membaca artikel tentang : Inilah Suku Hopi, Suku Dengan Ramalan Terdasyat . Semoga dapat memberikan hal yang positif bagi anda.

:: Coretan BoWo ::

Note :
~ Berikanlah komentar dengan kata-kata yang baik dan sopan.
~ Dilarang mencantumkan link yang berbau negatif.